
Film ini memiliki latar belakang dan alur yang sangat menarik untuk dinikmati. Beberapa narasumber mulai dari orang terdekat, guru sekolah, teman seperjuangan saat menjadi aktivis, rekannya saat membentuk KontraS, kesaksian orang yang bertemu terakhir sebelum kematian misterius Munir serta beberapa narasumber lain dihadirkan dalam film ini.
Sosok Munir semasa sekolah dikenal sebagai pelajar yang biasa-biasa saja oleh gurunya, namun kelihaiannya dalam berdiskusi membuatnya berbeda dari temannya yang lain. Sisi humanisnya juga mulai terlihat saat dirinya menginjak sekolah menengah atas. Kebiasaan Munir dalam berdiskusi dan mendalami hukum tata negara mulai tampak saat dirinya mengemban bangku perkuliahan. Munir juga sempat mendapat beasiswa untuk melanjutkan S2 Hukum Humaniter Internasional di Belanda. Keberangkatannya ke Belanda ini sekaligus menjadi kepulangan dari seorang Munir untuk selama-lamanya.
Kelebihan dari film ini terlihat dari pengambilan setiap potret dan kisah yang sangat menggambarkan sosok seorang Munir mulai dari dirinya kecil hingga dewasa. Kehidupan keluarga dan perjuangannya ketika menjadi aktivis, serta detik-detik ketika Munir menyambut kematiannya. Sederhana namun dapat menggambarkan sosok seorang Munir dengan utuh. Sisi pengambilan gambar dan lagu yang digunakan juga begitu pas, membuat film ini seakan menyihir kita masuk kedalam kehidupan seorang Munir yang nyata. Pengambilan gambar lama yang jarang kita ketahui menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Seperti menonton fim tahun 90an, hal itulah yang memperkuat kesan dan rasa yang ada dalam film ini.

Dari film ini kita dapat belajar bagaimana kehidupan seorang Munir. Perjuangannya, pengorbanannya, semangatnya, serta jiwa kemanusiaannnya yang melekat dan mampu menciptakan gairah untuk selalu menegakkan keadilan dan menolong orang-orang kecil.